Wednesday, June 6, 2018

Sajak-Pria tua



Autum Pixabay

Angin hadir tanpa di mau
Membangunkan sehelai daun yang tertidur pulas dalam lelap
Terlalu luas cakrawala itu
Bisakah daun menyentuhnya?

Begitu cepat hari berganti
Berlalu meninggalkan setiap  jejak tangis dan tawa
Kejam, tak bisa berhenti dan kembali
Kemana perginya hari kemarin?

Seperti merindukan hujan yang belum musimnya
Pura-pura girang berbohong pada hati
Bahwa di luar sedang ada hujan lebat
Kemudian tertawa lepas, Bebas, Bahagia
Walau tahu itu hanya peran penawar rindu
Kepada hujan yang tak pernah mau peduli

Ada perempuan buru-buru tertidur sembari menenun mimpi yang indah
Ada laki-laki menolak untuk tidur karna takut bermimpi luka yang sama
Hidup memberimu banyak pilihan


Tidak ada hujan hari ini

Seorang pria tua menggenggam erat tongkat lusuh di tangannya
Menatap jauh ke arah jalan kamboja
Terdiam di antara sinar sore menjelang senja
Ia sedang mengulang rindu
Mengingat kenangan yang perlahan berlari ke arahnya
Memeluknya, mendekapnya erat–erat

Ribuan tetes airmata berjatuhan di tanah kering yang sekarat
Mengalir ke setiap akar pohon yang kesepian
Airmata seorang pria tua
Menjelma berganti dengan hujan yang baik

Malam kembali pulang
Tidurlah dengan tenang semua kenanganku.


***



Love kids

Next
This Is The Current Newest Page

15 komentar

Mana kok pria tuanya nggak ada di kursi mungkin sudah pergi atau ngumpet dibalik pohon...😄😄😂😂

Oohh!! Penyair tua karyamu sederhana

Mutunyapun tak ada dan anehnya banyak penggemarnya..

Siapa itu oohh!! Ku tak tahu!!.........Lagu itu mah neng...😂😂😂😂😂

Aku kyknya tahu siapa pria tua itu. *ehhhh

Siapa,siapa.. kepo.

Ga ada pak tua di kursi, udah minggat. ngambek.. haha

Dih, siapa ?
sok tau pasti.. :p

Ribuan tetes airmata berjatuhan di tanah kering yang sekarat

Malah jadi ingat salah satu scene anime di negara langit :)

saya justru bertanya2, mengapa bait pertama berwarna hijau.. sementara lainnya tidak..

Puk puk puk.. Met bobo kenanganku.. Jangan bangun lagi 😂

aku tidak ingin tidur karena tidur sering merampas rinduku dan hanya rindu itu yang kupunyai di dunia ini selain itu semua fatamorgana

Pulau Penawar Rindu adalah julukan pulau kediaman saya lho nia.. Saya ngebayangin setting puisinya disalah satu pantainya. Kami selalu rindu akan hujan karena mayoritas warga masih tadah hujan

selamat hari raya idul fitri sis nia mohon maaf lahir dan bathin,

itu korban jaringan lemot mas affan, hehe

pasti seneng bgt ya mba kalau tiba2 hujan deras tiap hari.. penasaran sm pulaunya.

Maaf lahir batin juga bang rusdi, selamat kembali fitri :)

Hei,, terima kasih atas kunjungannya
jangan lupa berkomentar biar bisa jalan-jalan juga ke blog kamu..
:)
EmoticonEmoticon